Ramadhan di Rumah Saja


“ RAMADHAN DI RUMAH AJA “
lebih khusyu’ ramadhannya

Dengan adanya musibah wabah penyakit dibulan ramadhan tahun ini dan dibatasinya kegiatan kita sehari-hari membuat beberapa dari kita menjadi galau, pengen kesini ga bisa pengen kesitu ga boleh bahkan saat ini banyak tempat ibadah yang tidak melaksanakan kegiatan ramadhan seperti biasanya. Hal ini menjadikan ramadhan tahun ini menjadi sangat istimewa.
Justru dengan dibatasinya kegiatan kita sehari-hari maka ini menjadikan kita bisa lebih khusus’ dalam melaksanakan amaliyah Ramadhan tahun ini, kita tidak disibukkan dengan jalan2 pagi, bukber dan yang laiinya. Yang sebenarnya kegiatan-kegiatan tersebut tidak ada hubungannnya denga amaliyah ramadhan.

Nah inilah kesempatan kita untuk mengambil hikmah dari diturunkannya wabah penyakit ini, dan kita harus yakin bahwa semua ini datangnya dari Allah Subhanahu Wata’ala..
Trus bagaimana dong sikap kita dalam menghadapi wabah penyakit ini?
Dalam menghadapi datangnya musibah dan cobaan hidup manusia digolongkan dalam empat golongan :
1.    Orang-orang yang lemah imannya
Siapa sih yang termasuk kedalam golongan ini?
mereka orang-orang yang selalu berkeluh kesah terhadap setiap keadaan. Dia selalu mengadu namun bukan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. padahal Allah lah sebaik-baik tempat mengadu
mereka mengadu lewat medsos, mengadu kepada sesama manusia. Ia selalu meratapi hari-hari bahkan tidak jarang ia bertindak diluar batas untuk melampiaskan amarah atas takdir buruk yang ia terima.
Jika yang kita lakukan seperti ini maka kita termasuk orang-orang yang lemah imannya, lemah akalnya dan agamanya. Na’udzubillah….
2.    Orang-orang yang bersabar
bersabar atas musibah dengan cara menahan diri dari melakukan hal-hal yang mengundang amarah Allah Subhanahu Wata’ala. Menahan lisan dari berucap kata yang tidak disukai Allah.
Orang yang sabar dalam menghadapi musibah senantiasa berdoa agar Allah menyingkirkan dan meringankan musibah yang menimpanya dan berharap pahala yang ada padanya, di saat yang sama ia mengambil sebab dan upaya agar musibah itu berlalu darinya.
Dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari Shuhaib berkata; Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR: Muslim)
Setiap kita akan selalu mendapat ujian. tetapi Allah tidak akan memberi beban kecuali sesuai kemampuan kita masing-masing
karena Allah telah berfirman dalam al-Qur’an:
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَا‌ۚ
“Tidaklah Allah membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya.” [QS. al-Baqarah: 286].
3.    Orang-orang yang ridho
nah yang ini lebih keren dari hanya sekedar sabar, Yaitu mereka yang ridho / berlapang dada ketika musibah menimpanya. Orang yang ridho atas musibah sangat menyadari bahwa semua yang terjadi atas kehendak Allah. Baginya, ketika ditimpa musibah seolah-olah dia tidak merasa mendapat musibah.
4.    Orang-orang yang bersyukur
Wow dikasih musibah kok bersyukur ?
Aneh kedengarannya, ditimpa musibah kok malah bersyukur. Ditimpa musibah kok malah berterima kasih.  Ya memang demikian keadaannya kelompok keempat ini. Baginya musibah adalah sesuatu yang ‘mengasyikkan’. Dia seakan menikmati ‘memadu kasih’ dengan Tuhannya di saat tertimpa musibah yang bagaimanapun bentuknya.
Karena kelompok ini yakin pasti ada hikmah dibalik diturunkannya musibah ini. Yang menempati derajat ini adalah para nabi dan rasul, wali-wali Allah, orang-orang yang memiliki keimanan dan ketakwaan yang mendalam
Seperti yang kita alami saat ini, dengan adanya musibah wabah penyakit ini kita bisa lebih dekat dengan keluarga kita, kita bisa merasakan kekhusyu’an ramadhan, ramadhan lebih di hati.
Banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan dirumah dan kapan lagi kita bisa berjamaah tarawih dirumah bersama keluraga kalo tidak ada musibah wabah penyakit ini?
Allah sudah mengingatkan kepada kita “sungguh apabila kamu telah bersyukur, pasti akan Aku tambah nikmat kepadamu; tetapi apabila kamu kufur, adzab-Ku amatlah pedih” [QS. Ibrahim: 7]
Nah.. saat ini kita sedang diuji oleh Allah Subhanahu Wata’ala dengan musibah wabah penyakit, kira-kira kita mau masuk kelompok yang mana ?
Apakah kita masuk  kelompok pertama? Na’udzubillah, berarti kita masuk kelompok orang yang imannya bermasalah.
Kelompok kedua? Ya, paling tidak kedalam kelompok inilah sikap kita; bersabar atas musibah. Ini adalah sikap wajib bagi seorang mukmin.
Ingatlan pesan al-Quran,  “Fa inna ma’al ‘ushri yusra, inna ma’al ‘ushri yusra.” (maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sungguh bersama kesulitan ada kemudahan) [QS. as-Syarh: 5 – 6].
Nah.. semoga dengan diturunkannua musibah wabah penyakit ini Allah akan mengangkat derajat kita, dan kita gunakan kekempatan “ dirumah aja” dengan memperbanyak ibadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Kita gunakan kesempatan “dirumah aja” sebagai jalan kita untuk lebih khusyu’ dalam menjalankan ibadah ramadhan tahun ini.

Wallahu a’lam bishshowab……


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Ramadhan di Rumah Saja"

Posting Komentar