RAHASIA
PENCIPTAAN ADAM
DALAM
PERSPEKTIF TAFSIR DAN SAINS
Oleh
: Khamdan
Penulis
adalah pendidik di SD Kemandungan 3
Berbicara penciptaan Allah, ada
sesuatu yang menarik dalam pandangan kami. Dimana, Allah menciptakan manusia
dalam suatu kesempurnaan yang saling melengkapi dan menyempurnakan satu dengan
lainnya. Kesempurnaan Allah menciptakan manusia diisyaratkan dalam al
Qur’an.”Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya”
Q.S At Tiin 95 : 4.
“Sebaik-baiknya”
dalam konteks pendekatan tafsir yang merujuk tafsir Jalalain dan tafsir Muyasar
tidak memiliki perbedaa berarti. Meskipun demikian, kita perlu melihat
perbedaan pada ayat berikutnya,”Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang
serendah-rendahnya” Q.S At Tiin 95 : 5 dan “Kecuali orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal saleh,maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada
putus-putusnya” Q.S At Tiin 95 : 6
Menurut Syaikh Jalaluddin di dalam
tafsir Jalalain, pengertian manusia dikembalikan ke tempat serendah-rendahnya
adalah setelah masa muda usai dan datang masa senja, menghimpun pendekatan bila
amal masa senja ditentukan oleh bagaimana perbuatan dikala masa muda. Sederhananya dapat disimpulkan, bila masa muda
digunakan untuk ketaatan kepada Rabbnya,
maka masa senja ketika ketidakkuasaan dan kelemahan menghampiri mereka, dari
sisi inilah Allah menilai sebagai suatu kebaikan sebagaimana masa muda yang
mereka usahakan. Demikian bagi mereka untuk sebaliknya.
Berbeda dengan pendekatan tafsir
Muyasar yang mengemukakan setelah masa muda atau masa hidup di masa kesempurnaan
digunakan untuk suatu pembangkangan pada Rabbnya,
maka ia akan terlemparkan dalam satu kehinaan di alam akhirat kelak (lihat Q.S
At Tiin 95 : 5). Oleh karena itu, Allah
tampilkan pengecualian/mustayatnya
pada kalimat selanjutnya. ( lihat penjelasan Q.S Attin 95 : 6 )
Dari apakah asal muasal meteri
diciptakannya Adam a.s?
Bertutur tentang materi penciptaan
Adam sebagai kholifah, banyak ayat yang menjelaskan secara tegas dan logis.
Sebagaimana diisyaratkan dalam Q.S Sad 38 : 76,”(Iblis) berkata:”Aku lebih baik
daripadanya(Adam), karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia (Adam) Engkau
ciptakan dari tanah”. Melihat ayat ini, kata tanah Allah istilahkan dengan thinin.
Pada sisi ayat lain, Allah gunakan kata turob yang mengandung satu
pengertian sejenis dari bahan tanah.
Ayat
ini menggambarkan alasan penolakan Iblis kepada Allah atas perintah “sujud”
yang diinterpretasikan sebagai perintah attahiyat/penghormatan.
Sujud yang dimaksud bukanlah menitik beratkan dalam konteks penyembahan, namun
hanya berkisar dalam kerangka penghormatan. Argumentasi tersebut melatar
belakangi penolakan Iblis atas perintah Allah. Ia tidak bisa melihat substansi
perintah. Iblis hanya melihat isi perintah secara sepihak, tanpa melihat siapa
yang memeritah. Sederhananya dapat disimpulkan, cara-cara berfikir Iblis adalah
konsep berfikir rasis. Melihat perintah bukan pada siapa yang memerintah, namun
apa dan kepada siapa perintah penghormatan tersebut ditujukan. Dan dari arah
inilah permusuhan abadi Iblis kepada manusia memasuki babak awal. Alasan Iblis
ini dikemukakan karena Adam hanyalah makhluk yang berasal dari tanah. Dalam
pandangan Iblis ras tanah lebih lemah dan rendah dibanding ras api sebagai
material atas penciptaaan dirinya. Alasan primordialitas ini sama ketika kita
membandingkan bangsa satu dengan bangsa lain, atau ras satu dengan ras lain
yang karena perbedaan itulah mengunggulkan salah satu dan melemahkan lainnya.
Padahal dalam pandangan Allah, unsur ketaqwaanlah yang membedakan diantara
kualitas keduanya. “Inna akromakum
indallahi atqokum”
Mengapa Allah mesti menciptakan
Adam a.s dari materi tanah?
Pertanyaan
demikian mungkin saja menjadi teka-teki yang penuh misteri dan memerlukan uraian
dari berbagai perspektif disiplin keilmuan. Pertanyaannya adalah, mengapa Allah
tidak menciptakan Adam dari batu, air, atau apa saja selain tanah?
Karena
dari materi tanah itulah kemudian Adam mampu menunjukan kecerdasannya dibanding
malaikat atau iblis sekalipun. Belakangan ilmuan mendeskripsikan penelitian
bila dalam senyawa tanah terdapat banyak atom atau unsur metal(logam) maupun mettaloid
(seperti logam) yang sangat diperlukan sebagai katalis dalam proses reaksi kimiawi maupun biokimiawi untuk
membentuk molekul-molekul yang lebih kompleks. Beberapa unsur yang terdapat
dalam tanah antara lain: besi(Fe), tembaga(Cu), kobalt(Co), mangan(Mn) dan lain
sebagainya. Selain itu juga terdapat unsur karbon(C), hidrogen(H), nitrogen(N),
fosfor(P), dan oksigen(O). Maka unsur-unsur metal
maupun mettaloid di atas mampu
menjadi katalis dalam proses reaksi biokimiawi untuk membentuk molekul yang
lebih kompleks seperti ureum, asam amino atau bahkan nukleotida.
Molekul-molekul
ini dikenal sebagai molekul organik, pendukung suatu proses kehidupan. Otak
manusia, yang merupakan organ penting untuk menerima informasi, kemudian
melakukan kegiatan saving/menyimpan
informasi, serta mengeluarkannya kembali. Kerja otak ini terdiri dari senyawa
kimia di atas yang tersusun menjadi makro-molekul dan jaringan otak. Instrumen
penyimpan informasi lainnya yang dimiliki manusia adalah senyawa kimia yang
dikenal sebagai DNA atau desoxyribonucleic
acid : asam desoksi ribonukleat. Baik jaringan otak manusia maupun
molekul-molekul DNA terdiri dari unsur-unsur utama C,H,O,N dan P.
Menurut Prof.Carl Sagan, Ia menggambark
an
bahwa manusia memang unggul dibanding makhluk lainnya. Salah satu keunggulannya
adalah manusia dilengkapi dengan sistem penyimpanan memori. Sistem penyimpanan
otak manusia terdiri dari dua unsur. Pertama, jaringan otak yang menyimpan
informasi apapun yang dapat terekam oleh dirinya. Otak manusia mempunyai
kemampuan menyimpan informasi sebanyak 1013
bits atau 107 Gbits.
Kedua,
DNA-Kromosomal, yaitu molekul DNA yang ada di kromosom yang menyimpan informasi
genetik manusia. Informasi ini akan diturunkan atau dialaihkan kepada
keturunannya. DNA-kromosomal manusia mampu menyimpan memori sebanyak 2 X 1010
bits atau sekitar 2 X 107
Gbits.
Kapasitas penyimpanan ini sebanding dengan buku setebal 2.000.000 halaman atau
sebanding 4.000 jilid buku @ 500 halaman. Kedua penyimpanan memori canggih ini
terbuat dari unsur-unsur sebagaimana senyawa yang terdapat dalam tanah. Subhannallah.
Inilah jawaban mengapa Adam a.s mampu menangkap dan mengerti semua isyarat
ilmu yang diajarkan Allah SWT berupa nama-nama benda serta mengungkapkan kembali
dengan benar. Jaringan otak dan DNA yang terdiri dari unsur-unsur tanah. Namun
demikian tidaklah Allah berikan pada malaikat maupun iblis. Iblis menyombongkan
diri karena kebodohannya dalam memahami ciptaan Allah dengan melecehkan ras
tanah.
Fungsi dan kedudukan otak dihadapan
agama
Jika kita belajar ilmu al Mantiq atau ilmu logika,
terdapat satu ungkapan kontroversi yang memerlukan penelaahan mendalam. Dimana mushonif mendifinisikan manusia dengan ungkapan,”Al Insanu hayawan al natiq”. Ungkapan ini menunjuk jika manusia
diindentikan
dengan
hayawan yang berfikir. Bila kita pahami, konsep definisi ilmu al mantiq tersebut dalam permukaan kata/al makna, maka kita hanya memperoleh ungkapan yang seolah
menyamakan kedudukan manusia dalam wujud sebagai hayawan. Namun demikian, kita
perlu melihat dalam konteks al-maghza atau
substantif persoalan. Dimana manusia yang memiliki kelebihan dibanding makhluk
lain, sedang mereka tidak memahami cara-cara kerja otak, maka keidentikan inilah
yang dipersamakan dalam persepsi hayawan.
Dan sekali lagi bukan kemudian manusia sebagai hewan sebagaimana cara-cara
pandang manusia yang berfikiran sempit.
Hal
ini diperkuat dalam firman Allah,”.....mereka itu seperti hewan, bahkan lebih
rendah dari padanya.Merekalah orang-orang yang lalai”. Q.S Al A’rof 7 : 179.
Ayat ini memperkuat anggapan, jika manusia yang tidak lagi mampu mempergunakan
hati, penglihatan, dan pendengarannya, yang bermuara pada akal atau otak, maka manusia demikian itu
tidaklah lebih seperti hayawan. Lebih
tegasnya kedudukan manusia tersebut lebih rendah dibanding hayawan. Tidak salah bila manusia yang mampu mensinergikan fungsi kerja
ketiga unsur: hati, penglihatan, dan pendengarannya menjadi sarana dalam ketatan
kepada Rabbnya, merekalah manusia
mulia. Bisa saja kemuliaan manusia lebih utama dibanding malaikat sebagai
makhluk yang paling taat. Sebagaimana wujud perintah Allah yang memuliakan Adam
setelah membuktikan argumentasi Allah atas maksud dan tujuan diciptakan manusia
sebagai kholifah(pemimpin). Mampukah kita menggunakan akal untuk menjadi mulia?
*Disarikan
dari beberapa sumber.

Belum ada tanggapan untuk "RAHASIA PENCIPTAAN ADAM"
Posting Komentar