Makna Sholawat atas Rasulullah dan Anjuran Mengawali Sesuatu dengannya.





[Semoga Allah merahmati,] maksudnya, semoga Allah menambahi kasih sayang dan pengagungan untuk Muhammad, [dan semoga Dia mencurahkan salam,] maksudnya, semoga Allah menambahi Muhammad penghormatan yang agung yang mencapai tingkatan yang tertinggi hingga tak terbatas.


(MASALAH) Ismail al-Hamidi berkata, “Apabila ada pertanyaan, ‘Sesungguhnya rahmat untuk Rasulullah Muhammad telah terwujud sehingga memintakan rahmat untuknya berarti memintakan sesuatu yang telah terwujud?’ Maka jawaban untuk pertanyaan ini adalah ‘Sesungguhnya tujuan memintakan rahmat kita untuknya adalah memintakan rahmat yang belum terwujud untuknya karena tiada waktu yang berlalu kecuali selama waktu tersebut ada rahmat yang belum terwujud untuknya. Oleh karena itu, dengan permintaan rahmat tersebut, Rasulullah Muhammad selalu naik dalam kesempurnaan sampai tingkatan yang tidak ada batasnya.’ Rasulullah Muhammad dapat menerima manfaat dari bacaan sholawat kita untuknya, sebagaimana menurut pendapat yang shohih. Akan tetapi, orang yang bersholawat hendaknya tidak berniat
memberi manfaat sholawat kepada Rasulullah Muhammad, melainkan hendaknya ia berniat menjadikan Rasulullah Muhammad sebagai perantara kepada Allah dalam memperoleh apa yang diinginkan oleh orang yang bersholawat tersebut. Tidak diperbolehkan mendoakan Rasulullah Muhammad dengan kalimat doa yang tidak dijelaskan oleh al-Quran ataupun Hadis, seperti kalimat doa ‘رﲪﻪ اﷲ’ (Semoga Allah merahmatinya). Akan tetapi, yang pantas dan yang layak bagi hak para nabi adalah mendoakan mereka dengan sholawat dan salam, seperti ‘ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ’ atau ‘اﻟﺼﻼة واﻟﺴﻼم ﻋﻠﻴﻪ’. Bagi hak para sahabat, tabiin, para wali, dan para syeh adalah mendoakan mereka dengan kalimat ‘رﺿﻲ اﷲ ﻋﻨﻪ’. Bagi hak selain mereka semua adalah mendoakannya dengan bentuk kalimat doa apa saja.”
Sholawat dan salam semoga tercurahkan [atas pemimpin kita, Muhammad,] Nama Muhammad adalah nama yang paling utama baginya, shollallahu ‘alaihi wa sallama. Orang yang memberinya nama Muhammad adalah kakeknya, Abdul Mutholib, pada hari ke-tujuh kelahirannya. Alasan mengapa yang memberi nama adalah Abdul Mutholib karena ayahnya, Abdullah, telah wafat sebelum kelahirannya. Abdul Mutholib ditanya, “Mengapa kamu memberinya nama Muhammad padahal nama Muhammad bukanlah termasuk salah satu dari nama-nama pendahulumu dan kaummu?” Ia menjawab, “Aku berharap semoga ia dipuji di langit dan di bumi.” Dan Allah telah mengabulkan harapannya itu.
Ada yang mengatakan bahwa yang memberinya nama Muhammad adalah ibunya sendiri, Aminah. Ibunya didatangi oleh malaikat. Kemudian malaikat itu berkata kepadanya, “Kamu telah mengandung seorang pemimpin manusia. Berilah ia nama Muhammad!”
Adapun Syeh Salim bin Sumair al-Hadromi memintakan sholawat (dan salam) di awal kitabnya kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama karena mengamalkan hadis Qudsi yang difirmankan oleh Allah, “Hai hambaku! Kamu belumlah bersyukur kepada-Ku ketika kamu belum berterima kasih kepada orang yang Aku mencurahimu kenikmatan melaluinya.” Tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama adalah perantara agung bagi kita dalam setiap kenikmatan yang kita peroleh, bahkan ia merupakan asal terwujudnya seluruh makhluk, baik dari golongan anak cucu Adam ataupun yang lainnya. Begitu juga, Syeh Salim bin Sumair al-Hadromi mengamalkan hadis Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama, “Barang siapa bersholawat kepadaku di dalam sebuah kitab maka para malaikat akan selalu bersholawat kepadanya selama namaku masih ada dalam kitab tersebut.”

Abdul Mu’thi as-Samlawi menjelaskan hadis Barang siapa bersholawat kepadaku di dalam sebuah kitab ... dst dengan perkataannya, “Barang siapa menulis sholawat dan mengucapkannya atau membaca sholawat yang tertulis dalam kitab atau risalah maka para malaikat akan selalu mendoakan keberkahan untuknya dan selalu memintakan ampunan untuknya.”

Rasulullah adalah seorang rasul [yang menjadi khotimi annabiyiin,] Lafadz ‘ َﺧ ﺎﰎ ’ dengan dibaca fathah atau kasroh pada huruf / /ت . Akan tetapi yang paling masyhur adalah dengan kasroh padanya. Artinya adalah (Rasulullah) yang menjadi penutup para nabi, seperti yang disebutkan dalam kitab al-Misbah. Oleh karena itu, tidak ada nabi setelah beliau, Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallama. Ia adalah penutup para nabi dalam wujudnya dari sudut pandang jisimnya di dunia nyata. (Sedangkan hakikatnya ia adalah nabi yang pertama kali, bahkan makhluk yang pertama kali diciptakan).


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk " Makna Sholawat atas Rasulullah dan Anjuran Mengawali Sesuatu dengannya. "

Posting Komentar