STUDY AYAT DAN SEJARAH KEHANCURAN PASUKAN BERGAJAH



STUDY AYAT DAN SEJARAH KEHANCURAN PASUKAN BERGAJAH
Oleh : Khamdan
Penulis adalah pendidik di SD Kemandungan 3

Masihkah kita ingat penjelasan ketika duduk di bangku sekolah dasar tentang bagaimana kehancuran pasukan bergajah?
Saya yakin, anda akan katakan,”Ya”!
Dalam memori anda dan saya terpatri kuat raja Abrahah beserta pasukannyalah yang hendak menghancurkan kota Makkah dan Ka’bah, bukan?
Namun apakah anda yakin bila ada runutan peristiwa kesejarahan yang perlu dipertanyakan? Bagaimana mungkin ada gajah di tanah Arab. Padahal yang kita mengerti hari ini gajah adalah sekelompok hewan liar yang banyak hidup di benua Afrikakan?
Siapa Abrahah sebenarnya? Lantas bagaimana ia masuk di tanah Arab? Dan apa yang melatarbelakangi Abrahah hendak menghancurkan Ka’bah?
Mungkin pertanyaan anda dan saya tidaklah jauh berbeda. Kita butuh setidaknya informasi lengkap dan asbab yang melatarbelakangi peristiwa ini. Kita semua berharap ada penjelasan yang konferhenshif dan ilmiah dari berbagai sudut kajian.
Al Qur’an surah Al Fiil sumber nas yang tak terbantahkan
            Sebagai manusia beriman, tentu kita sangat mafhum dan haqul yakin  menerima Al Qur’an sebagai sumber informasi utama yang otentik seputar peristiwa penyerangan oleh pasukan bergajah. Informasi yang terhimpun kuat dan permanen dalam memori otak kita adalah kehancuran Abrahah beserta pasukannya. Dan bukan Ka’bah sebagaimana yang mereka sebut-sebutkan. Hingga ending diakhir ayat ini, Allah gambarkan dengan analogi sederhana, yakni seperti dedaunan yang hancur dimakan ulat. Betapa mudah dan tak perlu energi ekstra untuk menghadapi tipu daya mereka. Allah sampaikan surat Al Fiil begitu lugas dan tegas tentang bagaimana logika kita dapat memetik hikmah di balik peristiwa tersebut. Bagi Allah tidak ada kata sulit. Ketika berhendak maka akan Dia katakan,”Kun Fayakun”. Jadi, maka terjadilah.
Peristiwa ini, sempat membuat kepanikan bagi penduduk Makkah. Bahkan bisa jadi menutup celah roda perekonomian dan kehidupan sosial keberagamaan. Dimana Ka’bah menjadi pusat  bagi mereka yang hendak melaksanakan haji maupun umroh yang waktunya tidak terbatas. Kota Makkah begitu luar biasa sebagai medan magnet yang  mampu menghimpun kekuatan dan menghidupkan tatanan masyarakat Arab baik dari segi perekonomian, sosial, budaya, maupun  peradaban dunia. Namun dalam sekejap, Makkah menjadi sumber gundah. Tentu karena wacana penyerangan itu. Selain bagaimana nasib Ka’bah dan pengaruh kebesaran keluarga Abdul Mutholib, kakek Muhammad yang kelak terlahir sebagai penutup bagi para nabi dan rasul. Abdul Mutholib merupakan keturunan Bani Hasyim yang merupakan kabilah terhormat dan memiliki pengaruh besar di Makkah. Ia adalah bangsawan Arab terkemuka yang memimpin Makkah dengan bijak dan penuh kesahajaan.
Penyerangan Yaman oleh pasukan raja Himyar
            Saat berkecambuk pembunuhan masal penduduk Nasrani di Yaman oleh Zu Nuwas, raja terakhir dari kerajaan Himyar Yahudi sebelum 570an Masehi, menjadikan kemurkaan tersendiri bagi raja Abisinia di tanah Afrika sesaat mendengar berita tersebut. Sentimentil agama yang melatar belatarbelakangi peristiwa itu, membuat Raja Abisinia yang seagama dengan penduduk Yaman mengutus dua orang terbaik dan pasukan bergajah terlatih untuk merebut kembali Yaman dari tangan Zu Nuwaz. Mereka adalah pangeran Aryat( al-Harist) dan panglima perangnya, Abrahah. Pasukan tempur penuh dengan jumlah besar segera menuju Yaman. Dalam waktu yang tidak lama, Yaman dapat direbut dan dikuasai kembali dari tangan raja Himyar. Akan tetapi kemudian, timbul percekcokan internal hingga usaha saling membunuh antara Pangeran Aryat dan Abrahah tak terhindarkan. Perkelahian itu, mengantarkan Pangeran Aryat menemui ajalnya. Dengan demikian, Yaman berada di bawah kendali dan kekuasaan Abrahah. Pada akhirnya, Abrahah dinobatkan menjadi gubernur Yaman.
Setelah penobatan jabatan gubernur, ia membangun sebuah katedral besar, Sa’an yang konon dibangun dari barang-barang mewah peninggalan Ratu Saba’. Salib-salibnya terbuat dari emas dan perak, serta mimbarnya dari gading gajah dan kayu hitam. Tujuannya, selain untuk mengambil hati raja Abisinia atas peristiwa yang menimpanya, sekaligus niatan Abrahah ingin mengubah perhatian masyarakat Arab yang setiap tahun berziyarah ke Ka’bah di Makkah. Yaitu mengalihkan konsentrasi umat ke gereja besar Sa’an itu. Karena dengan berbagai cara rencana itu tidak tercapai, maka tak ada jalan lain kecuali menghancurkan Ka’bah. Didorong oleh ambisius dan fanatisme agama, Abrahah mengerahkan pasukan besar dan bergajah dengan kekuatan penuh. Dibawah komandonya langsung, pasukan ini bergegas menuju Makkah.
 Sementara itu, bagi masyarakat Arab sendiri, gajah merupakan hewan aneh dan belum lazim diantara mereka. Karuan saja, gajah bukan hewan yang berasal dari tanah Arab. Kalaupun ada diantara mereka sebagai kendaraan perang, paling juga kuda ataupun unta. Dan sekali lagi gajah adalah hewan asing bagi masyarakat Arab masa itu.
            Dalam pandangan munfasir, mereka memiliki catatan beragam dalam mengomentari peristiwa ini. Namun intinya, mereka memiliki satu kesamaan persepsi, yakni setelah Abrahah dan pasukannya memasuki wilayah Hijaz(kawasan yang mendekati Makkah), ia memerintahkan intelegent dan beberapa pasukan elitnya untuk mongorek informasi secara lengkap dan upaya pemberitahuan kepada Abdul Mutholib pimpinan Makkah dari suku Quraisy. Mereka akan menghancurkan bangunan Ka’bah. Untuk itu, Makkah jangan melakukan perlawanan dan segera mungkin agar menyingkir dari dalam kota.
Namun sangat disayangkan, pasukan itu merampas dua ratus unta milik Abdul Mutholib dan membawanya pergi dari Makkah. Karuan saja perbuatan mereka memicu kemurkaan Abdul Mutholib dan keluarga besarnya.
            Mendengar mereka tidak bermaksud berperang, Abdul Mutholib bergegas menuju markas Abrahah di Hijaz. Ia ditemani anak-anaknya. Kehadiran Abdul Mutholib ditengah-tengah pasukan mereka, disambut hangat Abrahah. Ia merasa kagum melihat kegagahan Abdul Mutholib. Wajahnya yang teramat tampan dan bertubuh tinggi besar. Kedatangan Abdul Mutholib hanya dengan maksud mengambil kembali dua ratus ekor unta yang dirampas pasukan Abrahah. Abrahahpun heran. Mengapa Abdul Mutholib sama sekali tidak membicarakan Ka’bah. Padahal ia adalah pimpinan masyarakat Quraisy Makkah. Dan bukankah Ka’bah adalah rumah suci yang mendasari agama dan agama nenek moyang mereka. Abdul Mutholib menyampaikan bahwa ia adalah pemilik unta, dan bukan pemilik Ka’bah. Rumah suci itu milik Allah dan Dia yang akan melindunginya.
Abrahah berjanji akan mengembalikan dua ratus unta miliknya. Konon Abdul Mutholib dan para pemuka Makkah menawarkan sepertiga kekayaan Timahah untuk Abrahah asal tidak mengganggu Ka’bah. Namun tawaran itu ditolak. Abdul Mutholib lantas kembali ke Makkah setelah unta-untanya dikembalikan. Abdul Mutholib dan pemuka-pemuka Makkah percaya bila Ka’bah akan ada yang menjaganya. Dan Makkah tidak perlu melakukan perlawanan.
Kehancuran Abrahan dan pasukan bergajahnya  
            Sekembalinya Abdul Mutholib ke Makkah, ia memerintahkan agar Bani Quraisy segera mengosongkan kota Makkah. Ini dilakukan agar tidak jatuh korban tentara Abrahah. Barangkali sembari berdo’a agar diberikan perlindungan terbaiknya.
Setelah seluruh kota Makkah sunyi, Abrahah mengerahkan pasukan dan bersiap untuk menghancurkan Ka’bah.  Dalam perhitungannya, setelah misi itu terselesaikan, mereka akan segera kembali ke Yaman. Namun demikian, pada saat pasukan sudah mulai bergerak, terasa ada pasukan yang menjatuhi bebatuan yang dibawa kawanan burung-burung di atas mereka. Burung-burung itu menghujankan sejenis bebatuan yang membawa kuman-kuman wabah penyakit mematikan berupa bisul atau sejenis penyakit kulit yang mirip kasus terbakar dan sangat mematikan. Jenis penyakit ini serupa campak ganas dan baru pertama mereka temukan hal serupa. Tak sedikit pasukan Abrahah yang tewas dimedan perang dan Abrahah sendiri tewas dalam perjalanan pulang menuju Yaman. Versi lain menyebut, Abrahah yang dalam keadaan panik melihat bencana wabah penyakit yang makin hari-makin mengganas, ia putuskan untuk menangguhkan misi penghancuran Ka’bah. Dan memerintahkan sebagian pasukan yang tersisa untuk kembali ke Sa’an di Yaman.
Peristiwa ini terjadi pada tahun kelahiran Nabi Muhammad atau dua bulan sebelum kelahirannya.Peristiwa ini dicatat oleh masyarakat Arab Makkah sebagai “Tahun Gajah” atau a’mul fiil. Dan diabadikan sebagai tahun sebelum penghitungan tahun hijriyah dimulai. 


*Disarikan dari beberapa sumber.


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "STUDY AYAT DAN SEJARAH KEHANCURAN PASUKAN BERGAJAH"

Posting Komentar