Dikisahkan dalam kitab I’anatuth-Thalibin Bab Luqatah
karya Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyati, bahwa ada sebuah peristiwa yang
membuat Rasulullah SAW meneteskan air mata.
Kisah ini adalah kisah yang menceritakan seorang sahabat yang hidup
Pada masa Rasulullah Shallallahu alai’hi wa sallam, yang bernama Abu
Dujanah dari kabilah Khazraj (wafat 632). Beliau syahid dalam perang
Yamamah ketika memerangi nabi Palsu Musailamah al-Kazab. Selain dikenal
pemberani di medan perang, Ia juga seorang sahabat yang sangat menjaga diri dan
keluarganya dari perkara haram.
Setiap usai shalat shubuh berjamaah bersama Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, Abu Dujanah selalu terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan
doa yang dipanjatkan Rasulullah selesai. Sehingga saat ada satu kesempatan,
Rasulullah pun mencoba meminta klasrifikasi pada Abu Dujanah.” Hai, apakah kamu
tidak punya permintaan yang perlu disampaikan kepada Allah sehingga tidak
pernah menunggukuk selesai berdoa?kenapa kamu terburu-buru pulang begitu?ada
apa?” tanya Rasulullah.
Abu
Dujanah menjawab,”Anu Rasulullah, kami punya satu alasan.”
“Apa
alasanmu?Coba kamu utarakan!” perintah Baginda Nabi.
“Begini
Rasulullah,” kata Abu Dujanah memulai ceritanya. “Rumah kami berdampingan
persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik
tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma yang menjulang, dahannya menjuntai
ke rumah kami. Setiap kali ada angin yang bertiup di malam hari, kurma-kurma
milik tetangga tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.”
“Ya
Rasul, kami ini adalah orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan, kurang
makan. Saat anak-anak kami bangun, apa pun yang di dapat, mereka makan. Oleh karena
itu, setelah selesai shalat, kami bergegas untuk segera pulang sebelum
anak-anak kami terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik
tetangga kami yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya.”
Suatu
saat, kami agak terlambat pulang. Ada anakku yang sudah terlanjur makan kurma
hasil temuan. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah
kurma basah di dalam mulutnya. Ia habis memungut kurma yang telah jatuh di
rumah kami semalam.”
Mengetahui
itu,lalu jari-jari tangan kami masukkan ke mulut anakku itu. Kami keluarkan apa
pun yang ada di sana. Kami katakan,”Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di
akhirat kelak.” Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air
karena sangat kelaparan.
Wahai
Rasulullah, kami katakan kembali kepada anakku itu,”Hingga nyawamu lepas pun,
aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut
yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma
yang lain kepada pemiliknya yang berhak.”
Mendengar
itu, mata Rasulullah pun berkaca-kaca, butiran air matanya berderai begitu
deras. Baginda Nabi mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma
yang dimaksud Abu Dujanah itu. Abu Dujanah pun mengatakan bahwa pemilik pohon
kurma itu adalah seorang laki-laki munafik.
Satu
ketika Baginda Nabi mengundang pemilik pohon kurma. Beliau lalu
mengatakan,”Bisakah tidak jika aku minta kamu menual pohon kurma yang kamu
miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuuh sepuluh kali lipat dari pohon
kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami
dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari
cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.” Kata Rasulullah
menawarkan.
Laki-laki
munafik ini pun lantas menjawab dengan tegas, “Saya tidak pernah berdagang
dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali
dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.”
Tiba-tiba
sahabat Abu Bakar as-Shiddir Radiyallahu ‘anhu datang. Lantas
berkata,”Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik
Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini (lebih bagus jenisnya).”
Si
muanfik pun kegirangan sembari berujar,”Ya sudah, aku jual.”
Abu
Bakar menyahut,”Bagus, aku beli.” Setelah sepakat, Abu Bakar langsung
menyerahkan pohon kurma itu kepada Abu Dujanah.
Rasulullah
SAW kemudian bersabda,”Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.”
Mendengar
sabda Nabi itu, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula dengan Abu
Dujanah. Sedangkan si munafik berjalan mendatangi istrinya, lalu menceritakan
kisah yang baru saja ia alami. “Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku
dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu
masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku yang akan tetap memaknnya lebih
dulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita
itu sedikit pun.”
Malam
harinya, saat si munafik tidur dan terbangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon
kurma yang ia miliki berpindah posisi menjadi berdiri di atas tanah milik Abu
Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon itu tumbuh di atas
tanah milik si munafik. Ia pun keheranan tiada tara.
Demikianlah kisah tentang sahabat dan pohon kurma yang telah mampu
membuat Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis. Ada
hikmah yang bisa kita petik dari kisah tersebut, yakni sikap kehati-hatian para
sahabat dalam menjaga diri dan keluarganya dari makanan yang haram. Jangan
pernah mencoba untuk memakan sesuatu yang bukan menjadi hak kita. Kemudian
pohon kurma yang berpindah posisi itu adalah salah satu mukjizat Nabi SAW yang
langsung dirasakan oleh sahabat Abu Dujanah.
Semoga
kisah di atas bermanfaat dan kita mampu meneladaninya dalam kehidupan
sehari-hari
Wallahu a’lam bish-Shawab.
Dikirim
Oleh : Fasilil Qibtiyah, S.PdI. M.PdI

Belum ada tanggapan untuk "Kisah Sahabat yang Membuat Rasulullah Saw Menangis"
Posting Komentar