BERSYUKUR KETIKA KEHILANGAN
(oleh Muhammad Ali Furqon, S.Pd.I)


Salah satu hal yang mungkin kita sebagai manusia terkadang lupa adalah bahwa bersyukur merupakan salah satu bagian dari pengamalan Aqidah. Bersyukur merupakan wujud rasa terima kasih seorang hamba kepada Allah SWT atas segal ahal yang telah terjadi maupun didapatkan. Dengan bersyukur, komunikasi dan ikatan seorang hamba dengan Rabb-nya senantiasa terjalin dan dekat. Bersyukur juga merupakan bukti kepercayaan seorang hamba terhadap Rabb-nya, bahwa adalah keputusan tepat mempercayakan hidup dan matinya kepada Zat yang telah menciptakan dan memberinya banyak nikmat. Seseorang yang kehilangan rasa syukurnya, dapat berubah menjadi sombong dan melupakan Rabb-nya, yang secara sadar maupun tidak telah menodai aqidahnya sendiri dan hubungannya sebagai hamba dengan Rabb.
Dalam menjalani hidup, adalah sebuah hal wajar ketika kita sebagai manusia secara umum maupun sebagai muslim secara khusus, bersyukur ketika mendapat nikmat dan kebahagiaan dari Allah SWT, baik kebahagiaan yang bersifat temporer maupun yang bersifat permanen. Dalam kondisi ‘mendapatkan’, manusia cenderung diselimuti energy positif selama masih bias menguasai dirinya sehingga nilai-nilai kebaikan seperti bersyukur, ketenangan, maupun optimisme masih sering kali dilakukan. Yang menjadi ironi adalah tidak jarang ketika dalam kondisi ‘kehilangan’, manusia cenderung dibalut pekat dengan suasana negatif , seperti bersedih, labil, kecewa, sehingga tidak jarang melakukan hal-hal yang berbanding terbalik dari posisi ketika manusia tengah bersyukur, seperti marah, memaki-maki, bahkan kufur, membuat jarak yang cukup nyata antara kedua kondisi yang sering dan pasti dialami manusia tersebut.
Apabila kita telaah kembali, ‘kehilangan’ juga merupakan wujud ‘mendapatkan’. Apapun yang hilang dalam kehidupan manusia, tidaklah Allah membiarkannya kecuali akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik yang bahkan dalam wujud yang tidak manusia sangka sebelumnya. Tidak hanya tentang ‘kehilangan’, bahkan untuk hal-hal yang manusia belum sempat ‘memiliki’ pun, Allah SWT akan menggantikan maupun memberikan sesuatu yang lebih baik, sehingga manusia ‘mendapatkan’ sesuatu yang bahkan tidak dia minta sebelumnya. Sungguh dalam setiap peristiwa apapun, baik ‘kehilangan’ maupun ‘mendapatkan’, Allah SWT akan memberikan perwujuduan keinginan maupun ganti yang lebih baik, bahkan akan ditambahkan terutama ketika kita bersyukur kepada Allah SWT dan senantiasa tidak berputus asa akan rahmat-Nya.
وَإِذْتَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّعَذَابِى لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S. Ibrahim : 7).
     Dengan bersyukur, kita belajar bahwa ‘mendapatkan’ juga merupakan perwujudan ‘kehilangan’. Ketika kita ‘mendapatkan’, kita sedang mengalami momen merasakan ‘kehilangan’ sebuah lubang yang terisi oleh hal yang kita dapatkan tersebut. Ketika ‘mendapatkan’, kita sebenarnya sedang ‘kehilangan’ rasa kosong yang selama ini mengisi dan menemani keseharian kita. Dan ketika ‘mendapatkan’, kita kadang secara tidak sadar menjadi berubah menjadi ‘kehilangan’ kebijaksanaan dan kearifan sehingga tidak jarang kita menjadi dekat sekali dengan kufur nikmat. Tetapi dengan bersyukur, momen ‘mendapatkan’ maupun ‘kehilangan’ menjadi terasa lebih realistis dan wajar, karena semua momen tersebut adalah berasal dari Allah SWT.
     Bersyukur ketika ‘mendapatkan’ adalah hal yang mudah dan lumrah. Tapi bagaimana bersyukur ketika ‘kehilangan’ ? salah satu hal yang bias kita lakukan ketika mengalami ‘kehilangan’ namun tetap pada kaidah bersyukur adalah dengan bersabar. Seperti halnya sholat, sabar adalah penolong bagi orang mukmin yang dijanjikan Allah SWT.
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِين
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" (Q.S. Al-Baqoroh : 153)
     Dengan bersabar, ‘kehilangan’ yang tadinya terlihat sulit, rumit, kacau, dan tak beraturan sedikit demi sedikit terurai dan beralih menjadi lebih lapang, jelas, tenang, dan kosong secara perlahan. Penerimaan dan pemahaman akan ‘kehilangan’ yang disertai dengan kesabaran akan mengasilkan ruang baru. Hal ini sangat penting demi member tempat bagi hal lain yang akan diberikan Allah SWT sebagai sebuah ganti yang akan kita peroleh, dan sebagai bagian dari proses ‘mendapatkan’. Setelah ruang tersedia, sebagai ikhtiar kelayakan diri untuk mendapatkan ganti, diperlukanlah sebuah rasa syukur, baik ketika sebelum, sedang, atau setelah menerima nikmat tersebut. Sedangkan salat, merupakan salah satu wujud pengabdian dan wujud bersyukur kita kepada Allah SWT atas segala nikmat tak terhingga yang telah Allah SWT anugerahkan kepada kita, baik yang kita sadari maupun tidak.
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (1).  Maka dirikanlah sholat karena Rabb-mu, dan berqurbanlah (2)” (Q.S. Al-Kausar : 1-2)
     Bersabar, ketika kita pahami lebih jauh, merupakan sebuah wujud syukur ketika sebuah nikmat belum juga dating untuk mengisi sebuah ‘kehilangan’. Begitu pula dengan ikhtiar, yang merupakan wujud bersyukur karena kita masih diberi kesempatan untuk menunggu, berbuat, dan memantaskan diri hingga momen ‘mendapatkan’ bias kita temui. Sebelum pada akhirnya, kita bias benar-benar merasakan momen puncak bersyukur ketika nikmat itu datang, dan menyikapinya dengan baik dan bijak.
Terkadang memang bersabar dan bersyukur bukanlah sebuah hal yang mudah untuk diterapkan, terutama ketika dibutuhkan untuk segera menerapkannya. Tidak masalah untuk mencapainya secara perlahan dan tidak tergesa-gesa. Dalam proses untuk mencapai kedua hal tersebut, tidak jarang Allah SWT akan memberikan kita kemudahan dan pemahaman secara bertahap sehingga kita bias secara perlahan memahami dan menerima dengan baik, sehingga secara tidak langsung, kita akan berada di jalan yang tepat untuk mencapai rasa sabar dan rasa syukur dengan lebih arif dan bijaksana. (Fur)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk " "

Posting Komentar