Rukun
iman yang pertama adalah bahwa [kamu beriman kepada Allah] sekiranya kamu
meyakini secara tafsil (rinci) bahwa sesungguhnya Allah itu Yang Maha Ada
(maujud), Dahulu (qodim), Kekal (baqi), Berbeda dengan makhluk (mukholif lil
hawadis), Tidak membutuhkan siapa dan apapun (mustaghnin ‘an kulli syaik), Esa
(wahid), Kuasa (qodir), Berkehendak (murid), Mengetahui (‘alim), Mendengar
(samik), Melihat (bashir), Berfirman (mutakallim), dan kamu meyakini secara
ijmal (global) bahwa sesungguhnya Allah memiliki kesempurnaan yang tiada batas.
Ketahuilah!
Sesungguhnya segala sesuatu yang wujud dilihat dari sisi butuh atau tidak
butuhnya pada tempat (mahal) dan yang mewujudkan (mukhossis) dibagi menjadi 4
(empat), yaitu;
1
Sesuatu yang tidak membutuhkan mahal dan juga mukhossis, yaitu Dzat Allah.
2
Sesuatu yang membutuhkan mahal dan juga mukhossis, yaitu sifat-sifat makhluk
3
Sesuatu yang menempati mahal tanpa adanya mukhossis, yaitu sifat10 Allah
al-Bari, yaitu Allah Yang menciptakan makhluk dan mewujudkan mereka dari
keadaan tidak ada menjadi ada.
4
Sesuatu yang membutuhkan mukhossis, bukan mahal, yaitu dzat makhluk.
Barang
siapa meninggalkan 4 (empat) kata ini maka imannya telah sempurna, yaitu
dimana, bagaimana, kapan, dan berapa. Apabila ada orang bertanya kepadamu,
“Dimana Allah?” maka jawabnya adalah “Allah tidak bertempat dan tidak mengalami
perjalanan waktu.” Apabila ada orang bertanya kepadamu, “Bagaimana Allah?” maka
jawabnya adalah “Allah tidak sama dengan sesuatu apapun.” Apabila orang
kepadamu, “Kapan Allah itu ada?” maka jawabnya adalah “Allah ada tanpa
permulaan dan tidak akan pernah berakhir.” Apabila ada orang bertanya kepadamu,
“Berapakah Allah itu?” maka jawabnya adalah “Allah adalah Satu yang bukan dari
hal sedikit. Katakanlah (Hai Muhammad)! Dialah Allah Yang Maha Satu.
Dari
terjemahan kitan Kasyifatus Saja karangan Syekh Imam Nawawi Al-Bantani

Belum ada tanggapan untuk "Iman Kepada Allah"
Posting Komentar