B. Iman Kepada Malaikat



Rukun iman yang kedua adalah [kamu beriman kepada para malaikat Allah,] sekiranya kamu meyakini bahwa mereka adalah materi-materi cahaya yang tidak berkelamin laki-laki, perempuan, atau khuntsa dan yang tidak memiliki bapak dan ibu, yang benar dalam berita yang mereka sampaikan dari Allah, yang tidak makan, tidak minum, tidak menikah, tidak melestarikan keturunan, tidak tidur, tidak ditulis amal-amalnya karena mereka adalah yang menulis, tidak dihisab dan tidak ditimbang amal-amal mereka karena mereka tidak memiliki amal-amal jelek, yang akan dikumpulkan bersama golongan jin dan manusia, yang dapat memberikan syafaat kepada mereka yang durhaka dari anak cucu Adam dan melihat orang-orang mukmin di dalam surga, yang masuk surga, yang menikmati kenikmatan di surga dengan kenikmatan yang sesuai kehendak Allah, tetapi Ahmad Suhaimi berkata, “Telah diriwayatkan dari Mujahid tentang suatu riwayat yang menunjukkan bahwa para malaikat tidak makan, tidak minum, dan tidak menikah di dalam surga, dan tentang riwayat yang menunjukkan bahwa mereka akan dalam keadaan seperti mereka ada di dunia. Riwayat ini juga menunjukkan bahwa bidadari surga dan anak-anak kecil surga tidak makan, tidak minum, dan seterusnya di dalam surga.”
Para malaikat akan mati saat tiupan pertama terompet Isrofil kecuali malaikat Hamalatu al-‘Arsy (penggotong ‘Arsy) dan 4 (empat) pembesar mereka, yaitu Jibril, Mikail, Isrofil, dan Izroil. Adapun mereka yang dikecualikan ini akan mati setelah tiupan pertama selesai. Adapun sebelum tiupan terompet pertama maka tidak ada satupun malaikat yang mati.
Wajib beriman secara global bahwa para malaikat itu ada dan mencapai jumlah batas yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah, dan wajib mengimani mereka yang nama-nama mereka disebutkan dan ditentukan atau yang jenis-jenis mereka ditentukan.
Malaikat yang nama-nama mereka disebutkan dan ditentukan adalah Jibril, Mikail, Isrofil, Izroil, Munkar, Nakir, Ridwan, Malik, Roqib, Atid, dan Ruman (Ruman adalah malaikat yang mendatangi mayit di dalam kubur sebelum Munkar dan Nakir mendatanginya
Malaikat yang jenis-jenis mereka ditentukan adalah malaikat Hamalatu al-‘Arsy, malaikat al-Khafadzoh (Malaikat al-Khafidzun (para penjaga) dibagi menjadi dua, yaitu alKhafidzun yang menjaga hamba dari bahaya dan al-Khafidzun yang menjaga apa yang keluar dari hamba, seperti; ucapan, perbuatan, dan keyakinan)  dan malaikat alKatabah.
Malaikat al-Khafidzun yang menjaga hamba dari bahaya ada 10 di malam hari, dan 10 di siang hari. Tobari meriwayatkan dari jalur Kinanah al-Adawi bahwa Usman bertanya kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa  sallama tentang jumlah malaikat yang ditugaskan menjaga manusia. Rasulullah menjawab, “Setiap manusia dijaga oleh 10 malaikat di malam hari dan 10 malaikat di siang hari.
1 (satu) malaikat berada di sisi kanannya.
1 (satu) malaikat berada di sisi kirinya.
1 (satu) malaikat berada di depannya.
1 (satu) malaikat berada di belakangnya.
2(dua) malaikat berada di dua sampingnya.
1 (satu) malaikat memegang ubung-ubunnya yang apabila hamba bersikap tawadhuk maka malaikat mengangkatnya dan apabila hamba bersikap sombong maka malaikat merendahkannya. 2 (dua) malaikat berada di kedua bibirnya,
2 malaikat ini hanya menjaga sholawat Nabi bagi hamba.
Dan 1 (satu) malaikat lagi menjaganya dari ular agar tidak masuk ke dalam mulutnya ketika ia tidur.
2. Malaikat al-Khafidzun yang menjaga apa yang keluar dari diri hamba, seper ucapan, perbuatan, dan keyakinan, ada 2 (dua), yaitu Malaikat Roqib dan Atid. Masing-masing dari 2 malaikat ini bisa disebut dengan Roqib dan juga bisa disebut dengan Atid. Tidak seperti orang-orang yang salah paham kalau yang satu bernama Roqib dan yang satunya lagi bernama Atid.
Demikian ini terkutip dari Cahaya Kegelapan; Terjemahan Nur ad-Dzolam Nawawioleh Ihsan ibnu Zuhri. Hal. 96-98.
Ahmad Qulyubi berkata;
Ketahuilah! Sesungguhnya Jibril adalah malaikat yang paling utama secara mutlak, bahkan lebih utama daripada Isrofil, sebagaimana menurut pendapat ashoh.
Jalal Suyuti berkata, “Jibril akan ikut menghadiri orang yang mati yang masih dalam keadaan masih menanggung wudhu (belum hadas).”
Sebagian ulama berkata, “Malaikat yang paling utama secara urutan, mereka adalah Jibril, kemudian Isrofil, (ada yang mengatakan Isrofil dulu, kemudian Jibril), kemudian Mikail, kemudian Malaikat Maut (Izroil).”
Fahrurrozi berkata, “Malaikat yang paling utama secara mutlak adalah malaikat Hamalatu al-‘Arsy dan malaikat al-Hafadzoh, kemudian Jibril, kemudian Isrofil, kemudian Mikail, kemudian Malaikat Maut, kemudian malaikat surga, kemudian malaikat neraka, kemudian malaikat yang dipasrahi untuk anak-anak Adam, dan kemudian malaikat yang dipasrahi bertugas untuk mengatur setiap ujung alam semesta.”
Ghazali berkata, “Hamba-hamba Allah yang paling dekat denganNya dan yang paling luhur derajatnya adalah Isrofil, kemudian malaikat-malaikat lain, kemudian para nabi, kemudian para ulama yang mengamalkan ilmunya, kemudian para pemimpin yang adil, kemudian orang-orang yang sholih.”
Kamu adalah orang yang cermat bahwa yang dekat belum tentu yang lebih diunggulkan. Pendapat wajhnya adalah mendahulukan Jibril daripada Isrofil.”
Dari terjemahan kitan Kasyifatus Saja karangan Syekh Imam Nawawi Al-Bantani

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "B. Iman Kepada Malaikat"

Posting Komentar