Pengertian
Iman
Iman
menurut bahasa berarti membenarkan secara mutlak, baik membenarkan berita yang
dibawa oleh Rasulullah Muhammad atau membenarkan selainnya. Sedangkan menurut
istilah syara’, pengertian iman adalah membenarkan semua yang dibawa oleh
Rasulullah Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallama, yaitu semua perkara yang
diketahui secara dhorurot atau pasti dari agama.9
Maksud
membenarkan disini adalah omongan hati yang mengarah pada kemantapan, baik
kemantapan itu dihasilkan dari dalil, yang disebut dengan ma’rifat
(mengetahui), atau dihasilkan dari tanpa dalil, yang disebut taqlid
(mengikuti).
Maksud
omongan hati adalah sekiranya hatimu berkata, “Aku meridhoi semua perkara agama
yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallama.”
Tingkatan-tingkatan
Keimanan
[GHURROH]
Tingkatan-tingkatan keimanan ada 5 (lima),
yaitu;
1
Iman Taqlid, yaitu mantap dengan ucapan orang lain tanpa mengetahui dalil.
Orang yang memiliki tingkatan keimanan ini dihukumi sah keimanannya tetapi
berdosa karena ia meninggalkan mencari dalil apabila ia mampu untuk
menemukannya.
2
Iman ‘Ilmi, yaitu mengetahui akidah-akidah beserta dalildalilnya. Tingkatan
keimanan ini disebut ilmu yaqin.
Masing-masing
orang yang memiliki keimanan tingkat [1] dan [2] termasuk orang yang terhalang
jauh dari Dzat Allah Ta’aala.
3
Iman ‘Iyaan, yaitu mengetahui Allah dengan pengawasan hati. Oleh karena itu,
Allah tidak hilang dari hati sekedip mata pun karena rasa takut kepada-Nya
selalu ada di hati, sehingga seolaholah orang yang memiliki tingkatan keimanan
ini melihat-Nya di maqom muroqobah (derajat pengawasan hati). Tingkat keimanan
ini disebut dengan Ainul Yaqin.
4
Iman Haq, yaitu melihat Allah dengan hati. Tingkatan keimanan ini adalah
pengertian dari perkataan ulama, “Orang yang makrifat Allah dapat melihat-Nya
dalam segala sesuatu.” Tingkat keimanan ini berada di maqom musyahadah dan
disebut dengan haq al-yaqiin. Orang yang memiliki tingkatan keimanan ini adalah
orang yang terhalang jauh dari selain Allah.
5
Iman Hakikat, yaitu sirna bersama Allah dan mabuk karena cinta kepada-Nya. Oleh
karena itu, orang yang memiliki tingkatan keimanan ini hanya melihat Allah
seperti orang yang tenggelam di dalam lautan dan tidak melihat adanya tepi
pantai sama sekali.
Dari
terjemahan kitan Kasyifatus Saja karangan Syekh Imam Nawawi Al-Bantani

Belum ada tanggapan untuk "Rukun Iman (Pengertian Rukun Iman)"
Posting Komentar