Seperti biasa, hari itu Muhammad berangkat menggembalakan
kambing ke lembah yang ditumbuhi rerumputan, bersama teman-teman sebayanya.
Muhammad datang ke tempat itu untuk menggembalakan ternak saudaranya. Tak
jarang mereka harus tinggal berhari-hari di dusun terpencil yang jauh dari
Makkah.
Muhammad duduk di atas sebuah batu. Sepasang
matanya yang tenang penuh ke ikhlasan menatap tajam alam sekitarnya. Angin
pegunungan yang bertiup menyegarkan badan. Matahari yang terbit di timur dan
tenggelam di barat. Bulan dan bintang yang bermunculan pada malam hari. Semua
teratur, berjalan sebagaimana mestinya. Jika tidak, pasti dunia ini akan
binasa.
Pemandangan alam sangat menggoda hati
Muhammad untuk terus merenungkan Sang Pencipta yang Mahakuasa, sebaik-baik
pengatur alam beserta isinya. Muhammad duduk tafakur, tenggelam dalam alam
renungan.
Lalu, diperhatikannya kambing-kambing
gembalaan yang memakan rumput. Khawatir ada yang berpencar terlalu jauh. Sebab,
disekitar tempat itu masih ada serigala dan binatang buas yang mengincar hewan
ternak.
“Hus! Hus! Jangan terlalu jauh dari indukmu.
Nanti ada serigala!” serunya.
Ia sangat bertanggung jawab pada
pekerjaannya. Sesekali kambingnya mengembik. Lalu, kembali makan dengan tenang.
Ketika melihat anak kambing yang bermain terlalu jauh, ia menggiringnya agar
berkumpul kembali dengan kambing-kambing lainnya.
Dengan cermat, Muhammad memeriksa keadaan
kalau-kalau ada serigala yang mengincar kambingya. Jika memang ketahuan ada
serigala, ia akan segera mengusirnya jauh-jauh.
Begitulah, Nabi Muhammad yang pada masa kecilnya bekerja menjadi penggembala kambing keluarganya.
Kambing gembalaannya berkembang biak dengan
cepat. Walaupun keturunan bangsawan Quraisy dan sanak saudaranya banyak yang
kaya raya, tetapi Nabi Muhammad tidak mau menggantungkan hidupnya kepada
mereka. Sesudah Nabi Muhammad yatim piatu, Abu Thalib, pamannya yang hidup
kekurangan, mengasuhnya dengan penuh kasih sayang.
Ketika Muhammad berusia dua belas tahun, ia
mulai berdagang bersama Abu Thalib ke tanah Syam. Akan tetapi, gagal. Sebelum
mereka sampai di Syam, seorang pendeta bernama Buhaira memperingatkan bahwa
jiwa Muhammad dalam bahaya. Abu Thalib pun segera membawa Muhammad pulang ke
Makkah. Mereka hanya berdagang sekadarnya. Keselamatan Muhammad jauh lebih
penting.
Sesudah itu, Abu Thalib mengajak Muhammad
berdagang di pasar-pasar dekat kota Makkah saja. Dalam berdagang, Muhammad
selalu melayani pembeli dengan ramah, tutur kata yang lemah lembut, dan jujur.
Ia pandai menawarkan barang dagangannya sehingga dagangannya cepat habis
terjual.
Seperti juga menggembala kambing, usaha
dagang Muhammad berhasil baik. Sedikit demi sedikit barang dagangannya
bertambah dan memperoleh untung yang besar. kini Muhammad di kenal sebagai
pedagang yang berhasil di kota Makkah. Tetapi, ia tetap selalu bersyukur kepada
Allah. Beliau tetap giat bekerja, gemar bersedekah, dan menolong orang-orang
yang membutuhkan bantuan.
Walau telah menjadi Nabi dan mempunyai
kedudukan yang tinggi, beliau tetap melakukan sendiri pekerjaan hariannya. Nabi
selalu menambal sendiri bajunya yang robek, atau menjahit terompahnya yang
putus talinya.
Nabi Muhammad membawa sendiri barang yang
dibelinya di pasar. Abu Hurairah yang saat itu menemaninya, menawarkan diri
untuk membawakan belanjaan itu, tapi Nabi melarangnya.
“Yang memiliki barang itulah yang lebih
pantas membawa barangnya. Sebab, Allah menyukai orang yang tidak menggantungkan
hidupnya kepada orang lain,” kata Nabi.
Bahkan, dalam suatu perjalanan bersama
sahabatnya, mereka beristirahat sebentar untuk memasak makanan. Nabi Muhammad
ikut mencari dan memanggul kayu bakar untuk memasak.
“Ya Rasulullah, biarlah kami yang mencari dan
mengangkut kayu. Anda silahkan beristirahat sambil menunggu hidangan,” kata
salah seorang sahabat.
“Aku pun harus ikut mencari kayu bakar,” kata
Nabi seraya tersenyum. Beliau tidak ingin berpangku tangan, sementara yang lain
sibuk bekerja.
Dalam peperangan pun, Rasulullah sebagai
panglima perang tidak hanya memerintah di tempat duduknya. Beliau ikut
bertempur ke tengah medan pertempuran bersama sahabat-sahabatnya.
Salah satu peperangan yang hebat di zaman
Rasulullah ialah perang khandak atau perang parit. Kaum Muslimin bekerja keras
siang-malam untuk menggali parit raksasa. Nabi Muhammad pun ikut menggali dan
masuk ke lubang parit. Bahkan, beliau menghancurkan batu-batu, menyekop, dan
memikul tanah di bahunya.
Sewaktu menggali parit, para sahabat
kewalahan dengan adanya batu yang sangat keras. Batu itu sukar dipecahkan oleh
linggis maupun besi. Mereka melaporkannya pada Rasulullah.
“Ada batu yang keras sekali. Rasanya kami tak
sanggup memecahkannya. Bagaimana ya, Rasul?” tanya sahabat. Lalu, Nabi turun
kedalam parit. Seketika itu, dengan besi di tangannya, batu-batu itu
dipecahkan. Saking kerasnya pukulan, bongkahan batu itu sampai menyemburkan api
saat besi ditimpakan diatasnya.
Sungguh, pekerjaan yang amat berat dan
menguras tenaga. Namun, peperangan tidak pernah terjadi. Musuh tidak jadi
menyerang. Allah yang Mahakuasa mengusir mereka dengan kekuatan alam. Udara
dingin dan badai gurun yang menakutkan, membuat musuh tak berdaya dan menyerah
kalah.
Sejak kecil sampai akhir hayatnya, Nabi Muhammad
tak pernah merepotkan orang lain. Malahan, beliau selalu memberi bantuan apa
saja kepada orang-orang yang membutuhkannya.
Sumber : Sumber https://iniceritainspiratif.blogspot.com/2018/01/penggembala-dengan-akhlak-yang-mulia.html
Dikirim Oleh : Suratno, S.PdI

Belum ada tanggapan untuk "Penggembala Dengan Akhlak Yang Mulia"
Posting Komentar