Assalamu’alaikum
Warohmatullahi Wabarokatuh
Hamdan wasyukrolillah ‘amma ba’du
Para pembaca dan para
siswa-siswi santriwan dan santriwati yang dimulyakan Allah.
Syukur kehadirat
Allah SWT senantiasa kita panjatkan . mudah mudahan kita semua diberi nikmat iman
dan nikmat islam serta nikmat kesehatan, keselamatan dan keberkahan dalam hidup
ini. Semoga kita juga dilindungi oleh Allah SWT dari wabah virus corona dan
mudah-mudahan virus corona segera hilang dan dicabut oleh Allah SWT dari bumi
ini. Amin ya robbal ‘Alamiin.
Sholawat ma’assalam
senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW semoga kita
semua mendapat syafa’at dihari kiamat .Amin ya robbal ‘Alamiin.
Para pembaca dan para
siswa-siswi santriwan dan santriwati yang dimulyakan Allah.
Materi
pada hari ini yaitu tentang Ahlaq siswa atau murid kepada Guru.
Beberapa waktu
belakangan ini begitu banyak kejadian kekerasan terhadap guru. Banyak berita
yang memberikan informasi bahwa banyak guru yang dipukul, dianiaya oleh
siswanya sendiri, bahkan ada yang sampai meninggal akibat dianiaya oleh
siswanya.
Tidak hanya berkata
keras dan kasar, tapi juga siswa-siswa tersebut sangat berani untuk memukul dan
menganiaya gurunya. Miris dan sedih mengetahui hal tersebut. Padahal seorang
guru seharusnya mendapatkan perlakuan yang baik dan dihormati oleh para
siswanya.
Seperti yang
diketahui bersama bahwa guru merupakan aspek besar dalam penyebaran ilmu. Guru
memiliki julukan yang mulia, yaitu “para pewaris nabi”. Kedudukan para guru
bisa dikatakan tinggi di hadapan Sang Pencipta.
Umar As-Sufyani
Hafidzohullah mengatakan, “Jika seorang siswa berakhlak buruk kepada gurunya
maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang
didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya.
Itu semua contoh dari dampak buruk.”
Ada baiknya siswa
diberi pelajaran adab terhadap guru. Agar moral yang sekarang ini telah
terkikis bisa diperbaiki.
Maka seperti apa
akhlaq siswa yang baik kepada seorang guru yang seharusnya diterapkan?
1.
Menghormati guru
Para suri tauladan
untuk manusia setelahnya telah memberikan contoh dalam penghormatan terhadap
seorang guru. Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu berkata,
“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid,
maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di
hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu
pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).
Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata,
“Demi Allah, aku tidak berani meminum
air dalam keadaan Asy-Syafi’i melihatku karena segan kepadanya”.
Diriwayatkan oleh Al–Imam Baihaqi, Umar
bin Khattab mengatakan,
“ Tawadhulah kalian terhadap orang yang
mengajari kalian”.
Al Imam As Syafi’i berkata,
“Dulu aku membolak
balikkan kertas di depan Malik dengan sangat lembut karena segan
padanya dan supaya beliau tak mendengarnya”.
Sungguh mulia akhlak
mereka para suri tauladan kaum muslimin, tidaklah heran mengapa mereka menjadi
ulama besar di umat ini, sungguh keberkahan ilmu mereka buah dari akhlak mulia
terhadap para gurunya.
Seorang siswa juga harus memperhatikan
akhlaq-akhlaq ketika berada di depan guru
2.
Akhlaq Duduk
Syaikh Utsaimin
mengomentari perkataan ini, “Duduklah dengan duduk yang berakhlaq, tidak
membentangkan kaki, juga tidak bersandar, apalagi saat berada di dalam
majelis.”
Ibnul Jamaah
mengatakan, “Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi, tenang, tawadhu’, mata
tertuju kepada guru, tidak membetangkan kaki, tidak bersandar, tidak pula
bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat
yang lebih tinggi juga tidak
membelakangi gurunya”.
3.
Akhlaq Berbicara
Untuk berbicara
dengan seseorang yang telah mengajarkan ilmu dan kebaikan kepada kalian,
haruslah lebih baik dibandingkan jika berbicara kepada orang lain. Imam Abu
Hanifah pun jika berada depan Imam Malik ia layaknya seorang anak di hadapan
ayahnya.
Para Sahabat Nabi
shallahu ‘alaihi wa sallam, siswanya Rasulullah, mereka tidak pernah memotog
ucapannya atau mengeraskan suara di hadapan Rasulullah. Bahkan Umar bin khattab
yang terkenal keras wataknya tak pernah menarik suaranya di depan Rasulullah,
bahkan di beberapa riwayat, Rasulullah sampai kesulitan mendengar suara Umar jika berbicara.
Di hadist Abi Said al
Khudry radhiallahu ‘anhu juga menjelaskan,
“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid,
maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di
hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu
pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).
4.
Akhlaq Bertanya
Bertanyalah kepada
para guru, maka akan terobati kebodohan, hilang kerancuan, serta mendapat
keilmuan. Tidak diragukan bahwa bertanya juga mempunyai akhlaq di dalam Islam.
Para ulama telah
menjelaskan tentang akhlaq bertanya ini. Mereka mengajarkan bahwa
pertanyaan harus disampaikan dengan
tenang, penuh kelembutan, jelas, singkat dan padat, juga tidak menanyakan pertanyaan yang sudah
diketahui jawabannya.
Seorang siswa
seharusnya tidak bertanya sampai diizinkan. Maka jika seorang guru tidak mengizinkannya
untuk bertanya maka jangalah bertanya, tunggulah sampai ia mengizinkan
bertanya. Kemudian, doakanlah guru setelah bertanya seperti ucapan, Barakallahu
fiik, atau Jazakallahu khoiron dan lain lain. Banyak dari kalangan salaf
berkata,
“Tidaklah aku mengerjakan sholat kecuali
aku pasti mendoakan kedua orang tuaku dan guru-guruku semuanya.”
5.
Akhlaq dalam Mendengarkan Pelajaran
Ketika kita berbicara
dengan seseorang tapi tidak didengarkan, kita pasti akan merasa kesal. Maka
bagaiamana perasaan seorang guru jika melihat siswa sekaligus lawan bicaranya
itu tidak mendengarkan? Sungguh merugilah para siswa yang membuat hati gurunya
kesal
Perlu diketahui kisah
Nabi Musa yang berjanji tak mengatakan apa-apa selama belum diizinkan oelh
gurunya, Nabi Khidir. Juga para sahabat Rasulullah yang diam pada saat
Rasulullah berada di tengah mereka.
Bahkan di riwayatkan,
Yahya bin Yahya Al Laitsi tak beranjak dari tempat duduknya saat teman-temannya
keluar melihat rombongan gajah yang lewat di tengah pelajaran. Hal tersebut
dilakukan karena Yahya mengetahui tujuannya duduk di sebuah majelis adalah
mendengarkan apa yang dibicarakan gurunya bukan yang lain.
Oleh karena itu jika
ada guru sedang menerangkan ilmunya, para siswa seharusnya tidak sibuk
berbicara dengan kawan di sampingnya, atau sibuk dengan gadgetnya.
6.
Mendoakan Guru
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila ada yang berbuat baik kepadamu
maka balaslah dengan balasan yang setimpal. Apabila kamu tidak bisa
membalasnya, maka doakanlah dia hingga engkau memandang telah mencukupi untuk
membalas dengan balasan yang setimpal.” (HR. Bukhori dalam al-Adab al-Mufrod
no. 216, lihat as-Shohihah 254)
Ibnu Jama’ah
rahimahullah berkata: “Hendaklah seorang penuntut ilmu mendoakan gurunya sepanjang
masa. Memperhatikan anak-anaknya, kerabatnya dan menunaikan haknya apabila
telah wafat” (Tadzkirah Sami’ hal. 91).
7.
Memperhatikan Akhlaq dalam Menyikapi Kesalahan Guru
Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
“Setiap anak Adam pasti berbuat
kesalahan, dan yang terbaik dari mereka adalah yang suka bertaubat” (HR. Ahmad)
Para guru bukan
malaikat, yang tanpa kesalahan. Guru tetap berbuat kesalahan. Namun, sebagai
siswa, jangan juga mencari cari kesalahannya, ingatlah firman Allah.
“Dan janganlah mencari-cari keburukan orang
dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang
suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik
kepadanya” (QS. Al Hujurot:12).
Allah melarang
mencari kesalahan orang lain dan menggibahnya, larangan ini umum tidak boleh
mencari kesalahan siapapun.
Lantas, bagaimanakah
jika aib para ulama, dan para pengajar kebaikan yang tersebar? Sungguh manusia
pun akan menjauhi mereka, ilmu yang ada pada mereka seakan tak terlihat,
padahal tidaklah lebih di butuhkan oleh manusia melainkan para pengajar
kebaikan yang menuntut hidupnya ke jalan yang benar. Belum lagi aib-aib dusta
yang tersebar tentang mereka.
Namun, ini bukan
berarti menjadi penghalang untuk berbicara kepada sang guru atas kesalahannya
yang tampak, justru seorang siswa harus berbicara kepada gurunya jika ia
melihat kesalahan gurunya.
Yang penting
dilakukan terkait akhlaq dalam menegur guru.
Menegur guru dilakukan dengan cara yang sopan dan lembut saat menegur
dan tidak menegurnya di depan orang banyak.
8.
Meneladani Penerapan Ilmu dan Akhlaknya
Merupakan suatu
keharusan seorang siswa untuk dapat mengambil ilmu serta akhlak yang baik dari
gurunya. Para guru, ulama, serta ustad
begitu tinggi akhlak mereka, tak lepas wajahnya menebarkan senyum kepada para
siswa. Kesabaran mereka dalam memahamkan pelajaran, sabar menjawab pertanyaan
para siswa yang tak ada habisnya, jika berpapasan di jalan malah mereka yang
memulai untuk bersalaman.
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata,
“Jika gurumu itu sangat baik akhlaknya, jadikanlah dia qudwah atau contoh
untukmu dalam berakhlak. Namun bila keadaan malah sebaliknya, maka jangan
jadikan akhlak buruknya sebagai contoh untukmu, karena seorang guru dijadikan
contoh dalam akhlak yang baik, bukan akhlak buruknya, karena tujuan seorang
siswa duduk di majelis seorang guru mengambil ilmunya kemudian akhlaknya.”
9.
Sabar dalam Membersamainya
Tidak ada satupun
manusia di dunia ini kecuali pernah berbuat dosa, sebaik apapun agamanya, sebaik
apapun amalnya nya, sebanyak apapun ilmunya, selembut apapun perangainya, tetap
ada kekurangannya. Tetap bersabarlah bersama mereka dan jangan berpaling
darinya.
Al Imam As Syafi
Rahimahullah mengatakan,
“Bersabarlah terhadap kerasnya sikap
seorang guru. Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya”
Besar jasa mereka
para guru yang telah memberikan ilmunya kepada manusia, yang kerap menahan
amarahnya, yang selalu merasakan perihnya menahan kesabaran, sungguh tak pantas
seorang siswa ini melupakan kebaikan gurunya, dan jangan pernah lupa
menyisipkan nama mereka di lantunan doamu. Semoga Allah memberikan rahmat dan
kebaikan kepada guru guru kaum Muslimin. Semoga kita dapat menjalankan akhlaq
akhlaq yang mulia ini.
Semua ini penting
diketahui siswa, karena jika seorang siswa menghormati guru, maka ilmu yang
diperoleh bisa manfaat.
Seorang penyair
berkata: “Sesungguhnya guru dan dokter keduanya tidak akan menasihati kecuali
bila dimuliakan. Maka rasakan penyakitmu jika tidak menuruti dokter, dan
terimalah kebodohanmu bila kamu membangkang pada guru.”
Jadi sangat jelas
bahwa menghormati guru itu harus ditanamkan sejak dini kepada siswa, agar siswa
mengetahui akhlaq terhadap guru, sehingga dalam menuntut ilmu para siswa diberi
kemudahan untuk memahami berbagai macam ilmu pengetahuan yang ada.
Pesan dari sayyidina
Ali RA bahwa modal utama syarat seorang murid ada 6 perkara yaitu :Kecerdasan, kemauan,
sabar, biaya, bimbingan guru dan waktu yang lama.
Keenam aspek itu
harus dimiliki oleh seorang murid agar bisa sukses menuntut ilmu salah satunya
melalui bimbingan Guru. Tanpa bimbingan guru kita tidak bisa sukses dalam
menuntut ilmu.
Demikian materi ahlaq
siswa kepada guru. Mudah mudahkan bermanfaat,
"Wallahul
Muwafiq ila Aqwamith Thariq” Wasalamu’alaikum
warohmatullahi wabarokatuh.
Reff : beberapa
isi diambil dari kitab-talim-muta’allim
Dikirim Oleh : Heri Santoso, S.PdI

Menuruti perintah dari orang tua, bersyukur kepada Tuhan yang maha esa,harus saling tolong menolong, menuruti perintah dari guru
BalasHapusSaling menghormati
BalasHapus