C. Iman kepada Kitab-kitab Allah


Pengertian beriman kepada Kitab-kitab Allah adalah membenarkan bahwa Kitab-kitab itu merupakan Firman Allah yang diturunkan kepada para rasul-Nya ‘alaihim as-sholatu wa assalaamu, dan semua isi kandungannya adalah benar.
Kitab-Kitab itu diturunkan bisa dalam bentuk tertulis pada papan-papan, seperti; Taurat, atau terdengar dengan telinga secara langsung, seperti; dalam malam Mi’roj, atau terdengar dari balik tabir, seperti yang terjadi pada Musa di Gunung Thursina, atau terdengar dari malaikat secara langsung, seperti yang diriwayatkan bahwa kaum Yahudi berkata kepada Rasulullah Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaiknya kamu berbicara langsung kepada Allah dan melihat-Nya jika kamu seorang nabi sebagaimana Musa berbicara dengan-Nya dan melihat-Nya.” Kemudian Rasulullah Muhammad menjawab, “Musa tidaklah melihat Allah.” Kemudian diturunkan ayat, “Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengannya kecuali dengan perantara
wahyu atau dari balik tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya …” QS.as-Syuuro: 51
Suhaimi berkata dalam menafsiri ayat di atas, “Tidaklah sah bagi seorang manusia diajak berbicara oleh Allah kecuali diwahyukan kepadanya sebuah wahyu, yaitu sebuah kalimat samar yang diketahui dengan cepat seperti yang didengar oleh Ibrahim dalam mimpi, ‘Sesungguhnya Allah memerintahmu menyembelih putramu’, dan seperti yang diilhamkan kepada Ibu Musa untuk membuang Musa yang masih kecil di lautan, atau dari balik tabir atau dengan mengutus seorang utusan, yaitu malaikat Jibril, ia mengatakan dengan perintah Tuhannya apa yang Tuhannya kehendaki kepada rasul yang ditemui Jibril.
Sulaiman al-Jamal berkata dengan riwayat dari Harts bin Hisyam, “Harts bertanya kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama, ‘Bagaimana wahyu mendatangimu?’ Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama, menjawab, ‘Terkadang wahyu mendatangiku seperti bunyi lonceng yang keras, kemudian bunyi lonceng itu hilang dan aku telah hafal apa yang dikatakannya.
Terkadang wahyu mendatangiku dengan dibawa oleh malaikat yang menjelma seorang laki-laki, kemudian ia berkata kepadaku dan aku langsung hafal apa yang ia katakan.’” Lafadz ‘اﺮس’ dalam hadis adalah dengan fathah pada huruf jim / /ج dan roo / /ر , yaitu sesuatu (lonceng) yang digantungkan di leher hewan himar. Lafadz ‘ﻓﻴﻔﺼﻢ’ berarti ‘ﻳﻨﻔﺼﻞ ﻋ’ dan ‘ﻳﻔﺎرﻗ’, yang berarti memisahiku. Lafadz ‘وﻋﻴﺖ’ adalah berasal dari bab lafadz ‘وﻋﻰ’, maksudnya aku telah menghafal apa yang ia katakan kepadaku.
Yang dimaksud dengan Kitab-kitab adalah sesuatu yang mencakup lembaran-lembaran. Telah masyhur bahwa jumlah Kitabkitab yang diturunkan oleh Allah ada 104. Ada yang mengatakan 114. Suhaimi berkata, “Yang benar adalah tidak perlu menentukan jumlah Kitab-kitab pada hitungan tertentu. Oleh karena itu tidak perlu dikatakan, ‘Kitab-Kitab itu ada 104 saja’, karena jika kamu mau meneliti riwayat-riwayat yang ada maka sesungguhnya Kitabkitab itu mencapai 184.”
Dengan demikian wajib meyakini secara global (ijmal) bahwa sesungguhnya Allah telah menurunkan Kitab-kitab dari langit, tetapi wajib mengetahui 4 (empat) Kitab secara tafshil (rinci), yaitu Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa, dan al Furqon yang diturunkan kepada makhluk terbaik, yaitu Nabi kita, Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallama wa ‘alaihim ajma’iin
1.    Lembaran-lembaran Ibrahim.
Diriwayatkan dari hadis Abu Dzar bahwa ia berkata, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apa itu lembaran-lembaran Ibrahim?’ Rasulullah menjawab, ‘Semua lembaran-lembaran Ibrahim adalah kalimat-kalimat perumpamaan. Di antaranya adalah; Hai pemimpin yang telah dikuasai (oleh setan), yang ditimpa cobaan, dan yang tertipu! Sesungguhnya Aku tidak mengutusmu untuk mengumpulkan dunia, maksudnya mengumpulkan bagian dunia satu dengan bagiannya yang lain, tetapi aku mengutusmu agar kamu bisa menghentikan adanya doa orang-orang yang teraniaya karena Aku tidak akan menolaknya meskipun doa itu keluar dari mulut orang kafir.’”
Di antaranya lagi, “Wajib bagi orang yang berakal memiliki (meluangkan) sebagian waktu untuk bermunajat kepada Tuhan-nya azza wa jalla, dan memiliki sebagian waktu untuk mengintrospeksi dirinya sendiri, dan memiliki sebagian waktu untuk bertafakkur tentang ciptaan-ciptaan Allah, dan memiliki sebagian waktu untuk memenuhi hajat makannya dan minumnya.”
Di antaranya lagi, “Wajib bagi orang yang berakal untuk tidak menjadi orang yang berangan-angan kecuali dalam tiga hal, yaitu berangan-angan dalam mencari bekal untuk akhirat, membaguskan kehidupan dunia/ekonomi, dan kenikmatan pada hal yang tidak diharamkan.”
Di antaranya lagi, “Wajib atas orang yang berakal untuk waspada terhadap masa-masa (yang dilalui)-nya, menghadapi keadaan (zaman)-nya, dan menjaga lisannya. Barang siapa menghitung-hitung omongannya daripada amalnya maka omongannya akan sedikit kecuali dalam jenis omongan yang bermanfaat baginya,” maksudnya, hanya banyak omongan tentang hal-hal yang bermanfaat baginya.

2.    Lembaran-lembaran Musa
Abu Dzar juga berkata bahwa ia bertanya, “Wahai Rasulullah! Apa itu lembaran-lembaran Musa?” Rasulullah menjawab, “Lembaran-lembaran Musa mengandung nasehatnasehat. Di antaranya adalah ‘Aku heran dengan orang yang meyakini adanya kematian, bagaimana bisa ia merasa senangsenang? Aku heran dengan orang yang meyakini adanya neraka, bagaimana bisa ia tertawa-tawa? Aku heran dengan orang yang melihat dunia dan melihat bagaimana dunia mengontang-antingkan pengikutnya? Bagaimana ia bisa merasa tenang-tenang saja mengejar dunia? Aku heran dengan orang yang meyakini adanya Qodar, bagaimana bisa ia kok tidak terima atau marah dengan keadaan (nasibnya)? Aku heran dengan orang yang meyakini adanya penghitungan amal (hisab), bagaimana bisa ia tidak beramal?’”
Di dalam Taurat disebutkan;
Wahai anak cucu Adam! Janganlah takut dengan kekuasaan seseorang selama kekuasaan-Ku masih tetap dan Kekuasaan-Ku akan selalu tetap dan tidak akan sirna selama-lamanya.
Hai anak cucu Adam! Aku telah menciptakanmu agar kamu beribadah kepada-Ku. Oleh karena itu, janganlah kamu bermainmain!
Hai anak cucu Adam! Janganlah kamu takut dengan rizki yang sedikit selama gedung-gedung rizki-Ku itu penuh banyak. Dan (sesungguhnya) gedung-gedung rizki-Ku itu tidak akan sirna/habis selama-lamanya.
Wahai anak cucu Adam! Aku telah menciptakan langit dan bumi. Aku tidaklah lemah dalam menciptakan semuanya. Apakah kamu menganggap-Ku lemah untuk memberikan satu roti yang Aku bagikan setiap waktu kepadamu?
Hai anak cucu Adam! Sebagaimana Aku tidak menuntutmu dengan amal besok, maka janganlah kamu menuntut-Ku dengan rizki besok!
Hai anak cucu Adam! Wajib atasmu melakukan kefardhuan untukKu dan wajib atas-Ku memberikan rizki kepadamu. Kemudian apabila kamu tidak mentaati kefardhuan-Ku maka Aku tetap memberimu rizki sesuai apa yang telah ditetapkan.
Hai anak cucu Adam! Apabila kamu ridho dengan apa yang telah Aku bagikan untukmu maka sungguh kamu telah memuaskan tubuhmu dan hatimu. Dan apabila kamu tidak ridho dengan apa yang telah Aku bagikan untukmu maka Aku menguasakan dunia untuk mengalahkanmu sehingga kamu akan bingung di dunia sebagaimana binatang-binatang liar merasa bingung di lahan yang lapang. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku! Kamu tidak akan memperoleh dari dunia kecuali apa yang telah Aku bagikan kepadamu dan kamu disisi-Ku adalah orang yang tercela.”

Dari terjemahan kitan Kasyifatus Saja karangan Syekh Imam Nawawi Al-Bantani

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "C. Iman kepada Kitab-kitab Allah"

Posting Komentar