D. Iman kepada Para Rasul



[Dan] rukun iman yang keempat adalah kamu beriman kepada [para rasul Allah.] Mereka adalah hamba-hamba Allah yang paling mulia. Dia berfirman, “Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).” QS. Al-An’am: 8
Cara mengimani mereka adalah dengan kamu meyakini bahwa sesungguhnya Allah telah mengutus para rasul kepada makhluk. Mereka adalah para laki-laki yang tidak diketahui jumlahnya kecuali hanya Allah yang mengetahui. Rasul yang pertama kali adalah Adam dan yang terakhir dan yang paling utama di antara mereka adalah pemimpin kita, Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallama. Mereka semua berasal dari keturunan Adam, ‘alaihi as-salaam. Mereka adalah orang-orang yang jujur dalam berkata tentang pengakuan sebagai rasul, dan yang jujur dalam apa yang mereka sampaikan dari Allah ta’ala, dan yang jujur dalam perkataanperkataan umum, seperti; aku telah makan, aku telah minum, dan lain-lain. Mereka adalah orang-orang yang terjaga dari melakukan keharaman atau kemakruhan. Mereka adalah orang-orang yang menyampaikan apa yang diperintahkan untuk disampaikan kepada makhluk meskipun bukan hal-hal yang berkaitan dengan hukum-hukum. Mereka adalah orang-orang yang cerdas sekiranya mereka itu memiliki kemampuan untuk menghadapi perselisihan, berdebat, dan mengalahkan tuduhan-tuduhan lawan debat mereka. Empat sifat ini (jujur, menyampaikan wahyu, cerdas, dan amanah) adalah sifat-sifat bagi para rasul.
Adapun para nabi, mereka bukanlah para rasul. Oleh karena itu, mereka tidak menyampaikan wahyu dari Allah. Mereka hanya berkewajiban menyampaikan kepada orang-orang bahwa mereka adalah para nabi agar orang-orang memuliakan mereka.
Pendapat shohih menyebutkan bahwa tidak perlu menghitung atau menentukan jumlah para nabi dan rasul karena terkadang menghitung mereka dapat menetapkan sifat kerasulan dan kenabian pada orang yang sebenarnya tidak memiliki sifat tersebut, atau terkadang menafikan sifat kerasulan dan kenabian dari orang yang sebenarnya memiliki sifat tersebut. Dengan demikian, kita hanya wajib membenarkan secara global atau ijmal bahwa Allah memiliki para rasul dan para nabi.
Wajib atas orang yang beriman untuk mengetahui dan mengajarkan anak-anak dan istri-istrinya tentang nama-nama rasul yang disebutkan di dalam al-Quran, sehingga mereka semua dapat membenarkan dan mengimani para rasul secara rinci atau tafsil dan sehingga mereka tidak menganggap kalau yang wajib diimani hanya Muhammad saja, karena mengimani seluruh para nabi, baik nama mereka disebutkan di dalam al-Quran atau tidak, adalah perkara yang wajib atas setiap mukallaf.
Dari 25 rasul tersebut, ada yang dijuluki dengan Ulul Azmi. Mereka berjumlah 5 (lima). Wajib (atas mukallaf) mengetahui urutan keutamaan mereka karena keutamaan mereka tidaklah sama. Yang dimaksud dengan kata ‘Azmi’ disini berarti bersabar dan menanggung beban berat atau berarti kemantapan, seperti yang ditafsirkan oleh Ibnu Abbas dalam ayat al-Quran.
Urutan mereka dari yang paling utama adalah Muhammad, kemudian Ibrahim, kemudian Musa, kemudian Isa, kemudian Nuh sholawatullah wa salaamuhu ‘alaihim ajma’iin.
Dari segi keutamaan, setelah Ulul Azmi adalah para rasul yang lain, kemudian para nabi yang lain. Sebenarnya para rasul dan para nabi memiliki tingkatan-tingkatan yang berbeda-beda dari segi siapa yang lebih utama di antara mereka di sisi Allah, tetapi kita tidak bisa menentukannya karena tidak ada keterangan yang menjelaskan tentang hal tersebut. Setelah mereka, kemudian para pembesar malaikat, seperti Jibril dan selainnya, kemudian para wali, terutama Abu Bakar dan para sahabat yang lain, karena ada hadis Rasulullah, “Sesungguhnya Allah telah memilih/mengutamakan para sahabatku dibanding makhluk lainnya selain para nabi dan rasul, kemudian memilih para malaikat pada umumnya, kemudian para manusia pada umumnya.”
Al-Fasyani berkata, “Para malaikat didahulukan penyebutannya daripada para rasul (dalam bunyi hadis) karena mengikuti urutan dari segi siapa yang lebih dahulu diciptakan oleh Allah, karena malaikat adalah lebih dahulu diciptakan oleh-Nya daripada para rasul, atau dari segi urutan sebenarnya dalam hal terutus, karena Allah mengutus para malaikat terlebih dahulu, kemudian malaikat menyampaikannya kepada para rasul.”
Dari terjemahan kitan Kasyifatus Saja karangan Syekh Imam Nawawi Al-Bantani

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "D. Iman kepada Para Rasul"

Posting Komentar